Vila Merah

Vila Merah…

Demikian nama tersebut diberikan pada sebuah bangunan yang merupakan rumah tinggal (vila), yang berada di Jalan Tamansari No 78 Bandung. Vila ini memiliki dinding dari batu bata merah yang tidak diplester. Batu batanya sendiri dibawa dari negeri Belanda dengan kapal laut.

Salah satu referensi mengatakan bahwa vila ini dirancang oleh C.P. Wolff Schoemaker pada tahun 1918. Sumber lain menyebutkan bahwa C.P. Wolff Schoemaker dan R.L.A. Schoemaker yang merancang pada tahun 1922. Namun saat saya berkunjung ke lokasi, di plakat tertulis dibangun pada tahun 1922 oleh R.L.A Schoemaker. Continue Reading →

Mengenang Bandros Tingkat Pertama di Kota Bandung

Tulisan ini pernah dimuat di majalah Jabar Publisher edisi #27 Mei-Juni 2014, dengan judul Bandros Made In Bandung. Ditulis ulang dan ditambahkan ke dalam blog rosmellix.com sebagai pengingat bahwa pernah ada bandros tingkat (double decker) yang pertama kali hadir di kota Bandung.

Pernah kenal bandros?

Itu nama makanan tradisional khas Jawa Barat. Bandros terbuat dari tepung beras dicampur dengan potongan kelapa dan santan, kemudian dibakar dalam cetakan berbentuk lonjong seperti bulan. Makanan ini jadi primadona dan tersingkirkan sejalan dengan perkembangan zaman. Tak banyak tempat yang menjual penganan ini, biasanya ada di pasar-pasar tradisional ataupun di pinggiran kota.

Tapi lain halnya dengan bandros yang ada di kota Bandung. Bandros yang memiliki singkatan dari Bandung Tour On Bus, adalah sarana transportasi berupa bus yang digunakan untuk berkeliling di kawasan kota Bandung. Bus ini memiliki 2 (dua) kabin bertingkat (double decker). Bagian bawah terdapat kursi dan meja seperti di bar, kursi taman dan kursi untuk supir, juga lemari pajangan (show case), perangkat audio dan tangga untuk naik ke bus bagian atas (lantai dua). Di bagian atas adalah ruang terbuka, terdapat 2 (dua) lajur kursi taman dilengkapi dengan pengeras suara (speaker) dan kain penutup (seperti tenda) yang dapat dibuka/tutup sewaktu-waktu bila diperlukan.

Continue Reading →

Sewa Bandros Mang Dudung Serasa Naik Kendaraan Pribadi

Cerita tentang bandros tak ada habisnya. Kendaraan wisata yang ada di kota Bandung ini menjadi perhatian warga Bandung juga wisatawan yang datang. “Naiknya dimana? Lewat mana aja? Bayar berapa? Jam berapa?”. Itu diantara sekian banyak pertanyaan.

Saya pernah mengulas info tentang bandros permen dalam tulisan sebelumnya. Di sini akan dibahas tentang bandros lain, yaitu bandros mang dudung.

Adalah bandros Mang Dudung yang hadir di Kota Bandung tahun 2016, sumbangan/milik CSR (Corporate Social Responsibility) dari perusahaan-perusahaan seperti : PT Akur Pratama (Yogya Group), PT Paragon Technology and Innovation (Wardah), PT Bank Central Asia, Tbk (Bank BCA) dan PT Bank Mandiri Persero, Tbk (Bank Mandiri).

Continue Reading →

Menikmati Wisata Di Kota Bandung Bersama Bandros Permen

Bandros…

Siapa yang tidak kenal bandros. Orang mungkin tahunya bandros itu makanan khas priangan yang terbuat dari tepung beras dengan parutan kelapa dan santan. Tapi, bagi warga Bandung punya arti sendiri. Bandros yang dimaksud disini adalah kendaraan berupa bus wisata yang digunakan untuk berkeliling di kota Bandung.

Bandros yang beroperasi di kota Bandung ada dua pengelola :

  • Bandros Mang Dudung, yang dikelola oleh komunitas masyarakat Bandung yang peduli Bandung
  • Bandros APBD 2017 atau lebih dikenal dengan nama bandros permen, yang dikelola oleh Dinas Perhubungan Kota Bandung

Nah disini saya mau berbagi cerita tentang bandros permen.

Continue Reading →

Junghuhn Inspirasiku

Catatan Perjalananku 13 April 2014 bersama komunitas Mata Bumi

Pagi itu, aku ada di tempat yang bernama Cagar Alam Junghuhn. Terbesit di pikiran, ” Siapa itu Junghuhn?”, “Bapak kina-kah?”. Penasaran, mulailah masuk ke kawasan itu. Di sana terlihat bangunan putih seperti tugu. Bagian bawah seperti kotak dan bagian atas meruncing seperti pena. Disitu tertulis nama “Dr. Franz Wilhelm Junghuhn”. Melihat lagi bangunan itu, ada keterangan lain “Mansfeld/Magdeburg 26 Oktober 1809” dan “Lembang 24 April 1864”. Baru tersadar kalau yang seperti ini biasanya makam. Tapi siapakah dia?

Kedua kalinya datang lagi ke tempat ini bersama teman-teman dari komunitas Mata Bumi. Sambil duduk santai, Kang Hawe Setiawan menceritakan bangunan putih ini dan Junghuhn. Memang benar, bangunan ini adalah makam. Namun bentuk makam berbeda. Bagian bawah yang berbentuk kotak itu perlambang al kitab, sedangkan bagian atas yang meruncing menyerupai pena adalah simbol poros dan bumi (seperti altar). Sedangkan Dr. Franz Wilhelm Junghuhn atau yang biasa dikenal Junghuhn, adalah seorang perintis tanaman kina di Indonesia. Continue Reading →

Mendadak Jalan

Berawal dari miss time gara-gara antri beli nasi padang n cemilan, kamis malam itu. Pk 19.50 posisi masih di daerah suci, sementara kereta malam berangkat pk 20.00. Sebenarnya sih hopeless tiba di stasiun Hall Bandung dalam 10 menit. Tapi saya yakinkan diri dan teman-teman saya bahwa “Kita berangkat malam ini dengan kereta api..”.

“Alhamdulillah…” ujarku, sesampainya di stasiun Hall. Saat melirik jam, waktu masih menunjukkan pk 19.55. Haha..lucu, ternyata belum terlambat. Maklumlah, angkutan umum tadi ngebutnya bikin jeleng. Setelah duduk di kereta, tanpa basa basi langsung menyerbu nasi padang yang tadi dibeli.

Sepanjang perjalanan di kereta, banyak pemandangan yang dilihat. Mulai dari orang yang sibuk mencari tempat duduk kosong, portir yang mengangkut barang, lalu lalang penjual makanan dan minuman, kondektur yang memeriksa tiket, pengamen dengan irama musik, sampai suara gesekan rel dan roda kereta yang memecah keheningan malam itu.

Continue Reading →

Gunungan Djokdja

Tema tur kali ini berbeda dengan yang sebelumnya. Setelah ngedadak tur, kami kembali menapaki kota Yogyakarta. Lagi-lagi kota ini yang jadi pilihan. Jujur saja, kota ini jadi kota kedua setelah Bandung yang menarik perhatian kami. Entah karena situasinya, karena kenyamannya, ataupun masyarakatnya. Kota ini terkenal dengan sebutan kota wisata.

Jam 7 malam, di terminal Cicaheum Bandung kami menunggu bis yang akan membawa kami. Mana ya? Oh itu dia..Kramat Jati!

Dengan berbekal roti kadet, snack kecil, coklat, permen, air mineral dan nasi goreng, kami bersemangat untuk melancong. Sepanjang jalan tak hentinya kami bercakap-cakap dan tertawa ria. sampai saat lapar menjemput perut untuk melahap nasi goreng. Hm..yummy! Nasi goreng Ling punya hehe..

Continue Reading →

Rosmellix dkk : Jalan-jalan ke Batu Lonceng

Pagi itu saya bergegas menuju Ledeng, janji bertemu teman-teman di gerbang UPI. Hari itu, saya bolos kerja karena memang hendak jalan-jalan ke Batu Lonceng Lembang bersama Jesis, Dimas, Ucan, dan Cindy.

Perjalanan dimulai dengan angkutan ke arah Lembang, dan berhenti di pasar Lembang. Dari sini, kami naek angkutan pedesaan ke arah Cibodas. Angkutan ini semacam oplet, sudah tua dan sebenarnya sudah tidak layak untuk digunakan. Dan waduh…kami harus duduk sekitar satu jam menunggu angkutan ini penuh dengan penumpang (kebanyakan ibu-ibu) yang belanja di pasar Lembang.

Continue Reading →

Berbagi cerita lewat gowes saguling

Baru saja hari minggu kemarin bergowas gowes ke saguling. 35 km eh ternyata 45 km coy, melelahkan juga (bagi yang awam). Masih berasa pegal badan dan kaki, maklum tanjakan dan turunan yang dilewati itu panjangnya 128 km. Busyeet!! Belum lagi batuk dan bersin yang mengusik. Saya pun sampai terkapar beberapa hari untuk istirahat.

Berangkat pukul 5.30 pagi menuju rumah Gustar untuk meminjam sepeda gunung miliknya. Bersama dia, saya melaju menuju ke alun-alun. 20 menit kemudian ketika tiba, tampaklah mobil pick up dengan neng Ulu yang sudah lebih dulu tiba. Tanpa berbasa-basi lagi, saya yang kelaparan dari rumah mengajak Ulu dan Gustar makan pagi.

sarapan berdempetan or ma sepeda??

rela berdempatan demi sepeda atau sarapan??

Kami yang sedang asyik-asyik menikmati sarapan pagi, harus berangkat, karena Inda, Hamda, pak Moro sudah di depan mata. Akhirnya duduklah kami semua bersempit-sempit ria di bagasi mobil pick up dengan deretan sepeda-sepeda gunung, walaupun sebenarnya di jok depan kosong. Mungkin pada enggan bergabung dengan driver seorang.

Sepanjang jalan menuju Kota Baru Parahyangan (titik awal buat ngegowes), pick yang membawa kami ini melewati jalan utama Jendral Sudirman. Banyak mata memandang seakan bertanya hendak kemanakah ini?

Lucu juga karena di samping kiri mobil ini, banyak para pesepeda menggowes sepeda, sedangkan kami dan sepeda gunung seperti menumpang mobil pick up. Wah..perut ini tak sanggup lagi menahan rintihan yang sedari tadi menjerit minta diisi. Saat itu juga, saya membuka kembali bungkusan nasi yang terpotong di Alun-alun tadi. Dan ternyata, ada yang lapar juga.Ulu yang berbaik hati pun memberikan bungkusan sarapannya pada Hamda. Wah..baik ya..hehe.

Tak peduli keadaan atau bau apapun, kami berdua asyik menyantap nasi bungkusan sambil dikomentari oleh kawan-kawan.

Continue Reading →