Kencan Sama Doraemon

Siapa sih yang ga kenal doraemon?

Itu lho tokoh dalam komik juga animasi Jepang karya Fujiko F. Fujio. Seekor kucing berwarna biru, bulet, lucu, yang punya kantong ajaib di perutnya. Kucing ini datang dari masa depan untuk membantu keseharian nobita buat “move on”. Nobita yang berteman dengan suneo, giant, dan shizuka.

Saya kenal doraemon gara-gara sering mampir ke toko buku, iseng melirik manga ini. Singkat kata tertariklah sama cerita doraemon, lalu ga sengaja lihat anime-nya yang disiarkan di televisi. Keterusan deh sampe sekarang. Rasanya sayang melewatkan kisah si robot kucing biru ini. Bagaimana pun alur ceritanya, tetep aja suka dengan karakternya.

Ngomong-ngomong soal doraemon, ada lho cafe yang tematik kucing biru ini di kota Bandung. Dengan sengaja saya mampir ke cafe ini, selain penasaran pengen melihat-lihat, juga ingin coba menunya.

Continue Reading →

Fact : Cara Mendapatkan Daging Yang Empuk

Ada beberapa cara untuk mendapatkan daging yang empuk. Berikut cara yang pernah saya praktekkan :

Cara yang pertama :

daging yang sudah dipotong sebaiknya dibungkus atau dibalut dengan daun pepaya muda yang diremas-remas sebelum dimasak. Lebih kurang sekitar 30-60 menit. Daun pepaya memiliki enzim papain yang dapat mengempukkan daging.

Cara yang kedua :

Continue Reading →

My Homemade : Rendang

“…Alhamdulillah, jadi juga rendang..” demikian ujarku.

Telah lama memang saya mencari resep dan cara membuat rendang. Pertama kali bikin rendang itu menggunakan bumbu racik yang dibeli di pasar. Alhamdulillah jadi. Selanjutnya coba bikin lagi, dengan bumbu instan. Alhamdulillah selesai jua.

Lama-lama…penasaran, bisa ga ya bikin bumbu sendiri. Coba resep itu, resep ini sampai akhirnya nemu resep disini, tapi sedikit modifikasi. Alhamdulillah jadi nyata. Dan inilah yang disebut rendang homemade pertama buatan saya sendiri. Mulai dari memilih dan membeli bahan, meracik bumbu sendiri, mengolah dan memasak hingga matang.

Berikut resep rendang yang saya buat. Silahkan praktekkan sendiri..

Bahan-bahannya :

Continue Reading →

Mendadak Jalan

Berawal dari miss time gara-gara antri beli nasi padang n cemilan, kamis malam itu. Pk 19.50 posisi masih di daerah suci, sementara kereta malam berangkat pk 20.00. Sebenarnya sih hopeless tiba di stasiun Hall Bandung dalam 10 menit. Tapi saya yakinkan diri dan teman-teman saya bahwa “Kita berangkat malam ini dengan kereta api..”.

“Alhamdulillah…” ujarku, sesampainya di stasiun Hall. Saat melirik jam, waktu masih menunjukkan pk 19.55. Haha..lucu, ternyata belum terlambat. Maklumlah, angkutan umum tadi ngebutnya bikin jeleng. Setelah duduk di kereta, tanpa basa basi langsung menyerbu nasi padang yang tadi dibeli.

Sepanjang perjalanan di kereta, banyak pemandangan yang dilihat. Mulai dari orang yang sibuk mencari tempat duduk kosong, portir yang mengangkut barang, lalu lalang penjual makanan dan minuman, kondektur yang memeriksa tiket, pengamen dengan irama musik, sampai suara gesekan rel dan roda kereta yang memecah keheningan malam itu.

Continue Reading →

Berbagi cerita lewat gowes saguling

Baru saja hari minggu kemarin bergowas gowes ke saguling. 35 km eh ternyata 45 km coy, melelahkan juga (bagi yang awam). Masih berasa pegal badan dan kaki, maklum tanjakan dan turunan yang dilewati itu panjangnya 128 km. Busyeet!! Belum lagi batuk dan bersin yang mengusik. Saya pun sampai terkapar beberapa hari untuk istirahat.

Berangkat pukul 5.30 pagi menuju rumah Gustar untuk meminjam sepeda gunung miliknya. Bersama dia, saya melaju menuju ke alun-alun. 20 menit kemudian ketika tiba, tampaklah mobil pick up dengan neng Ulu yang sudah lebih dulu tiba. Tanpa berbasa-basi lagi, saya yang kelaparan dari rumah mengajak Ulu dan Gustar makan pagi.

sarapan berdempetan or ma sepeda??

rela berdempatan demi sepeda atau sarapan??

Kami yang sedang asyik-asyik menikmati sarapan pagi, harus berangkat, karena Inda, Hamda, pak Moro sudah di depan mata. Akhirnya duduklah kami semua bersempit-sempit ria di bagasi mobil pick up dengan deretan sepeda-sepeda gunung, walaupun sebenarnya di jok depan kosong. Mungkin pada enggan bergabung dengan driver seorang.

Sepanjang jalan menuju Kota Baru Parahyangan (titik awal buat ngegowes), pick yang membawa kami ini melewati jalan utama Jendral Sudirman. Banyak mata memandang seakan bertanya hendak kemanakah ini?

Lucu juga karena di samping kiri mobil ini, banyak para pesepeda menggowes sepeda, sedangkan kami dan sepeda gunung seperti menumpang mobil pick up. Wah..perut ini tak sanggup lagi menahan rintihan yang sedari tadi menjerit minta diisi. Saat itu juga, saya membuka kembali bungkusan nasi yang terpotong di Alun-alun tadi. Dan ternyata, ada yang lapar juga.Ulu yang berbaik hati pun memberikan bungkusan sarapannya pada Hamda. Wah..baik ya..hehe.

Tak peduli keadaan atau bau apapun, kami berdua asyik menyantap nasi bungkusan sambil dikomentari oleh kawan-kawan.

Continue Reading →