Fact : Stay In Residence Complex

Stay in residence complex (like apartment) must pass a gate that always guarded by security 24 hours. They will open the gate to come in and come out. For a visitor, you have to ask permission. The security will ask your name and whom you will visit, then they will make a call to a person that you are headed for. If the person is be in a place, they will allow you inside or maybe that person can pick you up at the gate.

Place To Stay At Bogotá (1)

Looking for a place to stay in Colombia was a little bit amusing. A lot of place to stay with condition and facilities. For example you can choose a small house or big house in complex area or even in apartment. Stay with friend college or with house-parent or with a big family. They maybe have private or share bath room, TV (in your room or living room), but wifi is a must for internet connection. Some of them provide meals and laundry. Some others allow us to use the kicthen. Depend on the condition.

Continue Reading →

My Room My Homestay 

This is my first homestay, in a complex area which is guarded by security. The place is in the middle of city, 10 minutes walk distance to bus stop (transmilenio). My room was roomy with wifi and share bath room. Served meals twice a day (breakfast+dinner) and i can use the kitchen. The cost was taken 1,216mil for a month. A little bit expensive for me. Stayed with a granny and a little bird, remind me to carton aboint tweety bird and a granny. But too bad no sylvester around 😉

My First Dinner at Bogotá

This was my first dinner at Bogotá, homemade by my house-parent.

A bit surprise because it served too much, rice with chicken, salad also a lot of potato chips (appearance look like french potato).

The interest thing is rice, tasted greasy (oily), which different with rice in my hometown. Hm..added one spoon of pepper was a best choice cause there is no chili here beside chili sauce. Buen provecho!

Universitas La Sabana

Berada di lingkungan akademik itu buat saya adalah hal yang mengasyikkan. Bisa belajar banyak hal seperti ikut kelas, bertemu pengajar, ataupun membaca buku di perpustakaan. Hal lain yang membuatku menarik itu bersosialisasi dengan orang lain. Entah itu sekedar ngobrol ataupun bertukar pikiran. Lebih-lebih bisa dilakukan di luar kelas (outdoor) dengan suasana yang santai.

Begitu juga yang terjadi denganku saat belajar di kampus ini, Universitas La Sabana (La Sabana University/Universidad de La Sabana), demikian namanya.

Continue Reading →

Junghuhn Inspirasiku

Catatan Perjalananku 13 April 2014 bersama komunitas Mata Bumi

Pagi itu, aku ada di tempat yang bernama Cagar Alam Junghuhn. Terbesit di pikiran, ” Siapa itu Junghuhn?”, “Bapak kina-kah?”. Penasaran, mulailah masuk ke kawasan itu. Di sana terlihat bangunan putih seperti tugu. Bagian bawah seperti kotak dan bagian atas meruncing seperti pena. Disitu tertulis nama “Dr. Franz Wilhelm Junghuhn”. Melihat lagi bangunan itu, ada keterangan lain “Mansfeld/Magdeburg 26 Oktober 1809” dan “Lembang 24 April 1864”. Baru tersadar kalau yang seperti ini biasanya makam. Tapi siapakah dia?

Kedua kalinya datang lagi ke tempat ini bersama teman-teman dari komunitas Mata Bumi. Sambil duduk santai, Kang Hawe Setiawan menceritakan bangunan putih ini dan Junghuhn. Memang benar, bangunan ini adalah makam. Namun bentuk makam berbeda. Bagian bawah yang berbentuk kotak itu perlambang al kitab, sedangkan bagian atas yang meruncing menyerupai pena adalah simbol poros dan bumi (seperti altar). Sedangkan Dr. Franz Wilhelm Junghuhn atau yang biasa dikenal Junghuhn, adalah seorang perintis tanaman kina di Indonesia. Continue Reading →

Mendadak Jalan

Berawal dari miss time gara-gara antri beli nasi padang n cemilan, kamis malam itu. Pk 19.50 posisi masih di daerah suci, sementara kereta malam berangkat pk 20.00. Sebenarnya sih hopeless tiba di stasiun Hall Bandung dalam 10 menit. Tapi saya yakinkan diri dan teman-teman saya bahwa “Kita berangkat malam ini dengan kereta api..”.

“Alhamdulillah…” ujarku, sesampainya di stasiun Hall. Saat melirik jam, waktu masih menunjukkan pk 19.55. Haha..lucu, ternyata belum terlambat. Maklumlah, angkutan umum tadi ngebutnya bikin jeleng. Setelah duduk di kereta, tanpa basa basi langsung menyerbu nasi padang yang tadi dibeli.

Sepanjang perjalanan di kereta, banyak pemandangan yang dilihat. Mulai dari orang yang sibuk mencari tempat duduk kosong, portir yang mengangkut barang, lalu lalang penjual makanan dan minuman, kondektur yang memeriksa tiket, pengamen dengan irama musik, sampai suara gesekan rel dan roda kereta yang memecah keheningan malam itu.

Continue Reading →

Gunungan Djokdja

Tema tur kali ini berbeda dengan yang sebelumnya. Setelah ngedadak tur, kami kembali menapaki kota Yogyakarta. Lagi-lagi kota ini yang jadi pilihan. Jujur saja, kota ini jadi kota kedua setelah Bandung yang menarik perhatian kami. Entah karena situasinya, karena kenyamannya, ataupun masyarakatnya. Kota ini terkenal dengan sebutan kota wisata.

Jam 7 malam, di terminal Cicaheum Bandung kami menunggu bis yang akan membawa kami. Mana ya? Oh itu dia..Kramat Jati!

Dengan berbekal roti kadet, snack kecil, coklat, permen, air mineral dan nasi goreng, kami bersemangat untuk melancong. Sepanjang jalan tak hentinya kami bercakap-cakap dan tertawa ria. sampai saat lapar menjemput perut untuk melahap nasi goreng. Hm..yummy! Nasi goreng Ling punya hehe..

Continue Reading →

Rosmellix dkk : Jalan-jalan ke Batu Lonceng

Pagi itu saya bergegas menuju Ledeng, janji bertemu teman-teman di gerbang UPI. Hari itu, saya bolos kerja karena memang hendak jalan-jalan ke Batu Lonceng Lembang bersama Jesis, Dimas, Ucan, dan Cindy.

Perjalanan dimulai dengan angkutan ke arah Lembang, dan berhenti di pasar Lembang. Dari sini, kami naek angkutan pedesaan ke arah Cibodas. Angkutan ini semacam oplet, sudah tua dan sebenarnya sudah tidak layak untuk digunakan. Dan waduh…kami harus duduk sekitar satu jam menunggu angkutan ini penuh dengan penumpang (kebanyakan ibu-ibu) yang belanja di pasar Lembang.

Continue Reading →

Berbagi cerita lewat gowes saguling

Baru saja hari minggu kemarin bergowas gowes ke saguling. 35 km eh ternyata 45 km coy, melelahkan juga (bagi yang awam). Masih berasa pegal badan dan kaki, maklum tanjakan dan turunan yang dilewati itu panjangnya 128 km. Busyeet!! Belum lagi batuk dan bersin yang mengusik. Saya pun sampai terkapar beberapa hari untuk istirahat.

Berangkat pukul 5.30 pagi menuju rumah Gustar untuk meminjam sepeda gunung miliknya. Bersama dia, saya melaju menuju ke alun-alun. 20 menit kemudian ketika tiba, tampaklah mobil pick up dengan neng Ulu yang sudah lebih dulu tiba. Tanpa berbasa-basi lagi, saya yang kelaparan dari rumah mengajak Ulu dan Gustar makan pagi.

sarapan berdempetan or ma sepeda??

rela berdempatan demi sepeda atau sarapan??

Kami yang sedang asyik-asyik menikmati sarapan pagi, harus berangkat, karena Inda, Hamda, pak Moro sudah di depan mata. Akhirnya duduklah kami semua bersempit-sempit ria di bagasi mobil pick up dengan deretan sepeda-sepeda gunung, walaupun sebenarnya di jok depan kosong. Mungkin pada enggan bergabung dengan driver seorang.

Sepanjang jalan menuju Kota Baru Parahyangan (titik awal buat ngegowes), pick yang membawa kami ini melewati jalan utama Jendral Sudirman. Banyak mata memandang seakan bertanya hendak kemanakah ini?

Lucu juga karena di samping kiri mobil ini, banyak para pesepeda menggowes sepeda, sedangkan kami dan sepeda gunung seperti menumpang mobil pick up. Wah..perut ini tak sanggup lagi menahan rintihan yang sedari tadi menjerit minta diisi. Saat itu juga, saya membuka kembali bungkusan nasi yang terpotong di Alun-alun tadi. Dan ternyata, ada yang lapar juga.Ulu yang berbaik hati pun memberikan bungkusan sarapannya pada Hamda. Wah..baik ya..hehe.

Tak peduli keadaan atau bau apapun, kami berdua asyik menyantap nasi bungkusan sambil dikomentari oleh kawan-kawan.

Continue Reading →