Batu Kuda, Pegasus dari Bandung? (2)

Batu Kuda, Pegasus dari Bandung? (2)

  • Post Category:story / trip

Sambungan dari: Batu Kuda, Pegasus dari Bandung? (1)

Masuk lagi ke arah sebelah kiri, kudapati sebuah panggung yang cukup besar. Panggung ini sebetulnya adalah menara pandang, lokasi untuk berswafoto sambil menikmati pemandangan dari ketinggian. Di atas menara pandang ini, terlihat kawasan Bandung Timur yang ditandai oleh bangunan oval berwarna putih, yaitu Stadion Gelora Bandung Lautan Api (BLA). Tidak jauh dari Stadion tersebut, ada bangunan besar yang berada di atas lahan berair (rawa) yang dikenal dengan nama Masjid terapung Al Jabar.

Tidak jauh dari Stadion Gelora BLA, ada garis putih memanjang yang membelah area persawahan. Garis itu adalah jalan tol Cipularang yang menghubungkan Bandung dari Cileunyi hingga ke Padalarang. Bergeser ke sebelah timur, terlihat tanah merah yang beralur, yang merupakan proyek jalan tol Cisundawu (Cileunyi, Sumedang, dan Dawuan). Jalan tol ini belum beroperasi karena masih dalam tahap pembangunan. Di sebelah proyek, tampak bangunan modern yang menjulang tinggi. Bangunan tersebut adalah apartemen yang berada di kawasan pendidikan Jatinangor, Sumedang. Terdapat empat perguruan tinggi di Jatinangor, yaitu Universitas Padjadjaran (Unpad), Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Institut Manajemen Koperasi Indonesia (Ikopin). Keempat perguruan tinggi ini menjadi target kampus favorit bagi para pelajar dari berbagai daerah di tanah air yang ingin melanjutkan studinya.

Setelah puas berfoto dan menikmati pemandangan dari ketinggian, teringat bahwa tujuan utamaku ke sini itu untuk melihat situs Batu Kuda. Segera aku melangkah turun dan masuk ke area hutan melewati jalan setapak. Sepanjang jalan pemandangan hijau menyejukkan mata dengan udara yang jauh lebih segar. Terdengar suara nyaring yang cukup lama diantara tetumbuhan. Suara vampir pohon (tonggoret/cicada). Orang Sunda menyebutnya cengreret atau turaes. Di Jawa dikenal dengan nama garengpung, kinjeng tangis atau uir-uir, sedangkan di Makasar disebut nyenyeng. Tonggeret ini sejenis serangga berbadan besar yang hidup di daerah beriklim sedang hingga tropis. Mereka muncul di akhir musim penghujan dengan mengepakkan sayapnya menjadi suara akustik yang khas. Di saat seperti inilah musim kawinnya tonggeret dan juga menjadi penanda bahwa musim kemarau akan datang.

Setelah melewati aliran sungai yang airnya begitu bening, akhirnya saya mendapati sebuah batu besar yang bentuknya unik. Situs batu kuda, demikian tulisan yang tertera di papan. Lama kupandangi batu tersebut dan baru tersadar bentuknya menyerupai kepala kuda. Menurut legenda, batu ini merupakan penjelmaan dari kuda yang bernama Semprani milik Raja Prabu Layang Kusuma dan permaisurinya Ratu Layung Sari. Konon, kuda ini jatuh terperosok ke dalam lumpur saat terbang melintasi Gunung Manglayang dari Cirebon menuju ke Banten. Si kuda terperosok begitu dalam dan kesulitan untuk membebaskan diri, sehingga hanya nampak kepalanya saja. Sang Prabu yang tidak mampu menolong kuda tersebut, hanya bisa duduk dan diam di sebuah batu yang kini disebut batu kursi.

Jadi teringat cerita bapak tua saat di pintu masuk. Katanya seseorang akan dapat mendengar suara ringkikan kuda, bahkan dapat melihat seekor kuda putih yang terbang ke arah puncak gunung Manglayang. Hati sedikit bergidik membayangkan bila hal itu terjadi.

Dekat area ini pun ada batu lain, yaitu batu lawang, batu tumpeng, dan batu keraton. Menurut mitos, batu tersebut tidak bisa ditemukan oleh pendaki ataupun orang biasa. Gundukan batu yang ada di gunung Manglayang juga dipercaya sebagai perwujudan lain dari prajurit Sang Prabu.

Dulu ada aturan dilarang masuk ke kawasan Batu kuda setiap hari Senin dan Kamis, karena hari itu dipercaya sebagai hari berkumpulnya para leluhur (roh). Ada norma bila masuk ke kawasan Batu Kuda ini, harus dalam jumlah orang yang genap dan tidak boleh ganjil. Misalnya berdua, berempat, dan seterusnya karena berkaitan dengan keselamatan jiwa seseorang. Namun, kini aturan tersebut sudah tidak ada lagi. Pengunjung bisa datang kapanpun juga.

Wana Wisata Batu Kuda dijadikan kawasan cagar budaya yang  dilindungi, sesuai dengan Undang-Undang Nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Selain berwisata, berkunjung ke kawasan Batu Kuda membuat saya belajar menghargai tentang alam dan kisah Semprani si kuda terbang. Sudah selayaknya kita sebagai pengunjung ikut menjaga dan melestarikan alam serta situs yang ada di kawasan Batu Kuda ini.

Penasaran? Nonton aja videonya.

This Post Has One Comment

Leave a Reply