Batu Kuda, Pegasus dari Bandung? (1)

Batu Kuda, Pegasus dari Bandung? (1)

  • Post Category:story / trip

Pernah mendengar Pegasus?

Pegasus adalah kisah tentang seekor kuda yang banyak diceritakan dalam fabel, mitologi ataupun legenda. Dalam hikayat Jawa, dikenal Kuda Sembrani, kuda tunggangan Batara Wisnu. Orang sering menggangap cerita Kuda Sembrani sama dengan kisah Pegasus.

Cerita serupa Pegasus maupun Kuda Sembrani juga ternyata ada di Bandung. Legenda tentang kuda yang bisa terbang melebihi tingginya gunung. Kisah itu nyata dan situsnya ada di Bandung Timur. Aku yang penasaran segera bergegas pergi menuju ke lokasi tersebut.

Di sebuah tempat, 20 km di sebelah timur Kota Bandung, terdapat sebuah kawasan yang bernama Batu Kuda.  Kawasan ini berada di Kampung Cikoneng, Desa Cibiru Wetan, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung. Pagi itu aku menghidupkan mesin sepeda motor untuk menuju Cileunyi. Bertolak dari pusat kota Bandung melewati bunderan Cibiru, Jalan Percobaan, dan masuk ke Jalan Tanjakan Muncang (Villa Bandung Indah). Perjalanan dari kota menuju ke Cileunyi cukup datar. Namun, saat masuk ke Jalan Tanjakan Muncang, jalanan mulai naik menanjak. Makin jauh masuk ke dalam, jalanan makin mengecil seperti masuk ke sebuah desa.

Aku memilih jalan ini karena merupakan rute yang paling mudah. Tidak banyak berbelok walaupun GPS di googlemap menunjukkan rute lain menuju ke Batu Kuda ini.

Tiba di loket diberhentikan petugas untuk membayar uang sebesar Rp7.500,00 untuk tiket masuk dan lima ribu rupiah untuk kendaraan roda dua (motor). Aku pun parkir di area parkir motor yang sudah disediakan. Saat memarkirkan kendaraan, tiba-tiba ada yang bergerak-gerak di atas tanah. Setelah kudekati ternyata ulat pinus dengan bulunya yang gondrong. Terpesona dengan keindahannya serta tidak lupa mengabadikan ulat tersebut dengan kamera.

Tidak jauh dari area parkir kendaraan, berderet bangunan semi permanen, mulai dari bangunan bertuliskan pusat informasi, warung-warung makan, toilet, dan mushola. Saat melangkah masuk, ada papan besar bertuliskan: Wana Wisata Batu Kuda, KPH Bandung Utara, Manglayang Barat. Rupanya Batu Kuda ini adalah tempat wisata, pikirku dalam hati. Tidak heran para pengunjung berfoto di depan papan ini.

Beranjak masuk ke kawasan ini, aku merasa berada di negeri lain. Mataku dimanjakan dengan hamparan pemandangan pohon pinus yang hijau. Hutan pinus kata orang di sini. Oh, pantas saja tadi menemukan ulat pinus saat parkir motor, hatiku berkata.

Di area hutan pinus ini, tampak orang asyik berfoto ria menggunakan gadgetnya. Ada yang duduk santai sambil berbincang di atas sepotong kayu. Ada juga yang sedang merebahkan diri diatas hammock.

Di sudut lain ada sekumpulan orang duduk di atas tikar sambil menyantap makanan. Ngabotram, ya, ujarku dalam hati. Botram (ngabotram) adalah istilah dalam bahasa Sunda untuk kegiatan makan bersama yang biasanya di lakukan di luar ruangan dengan beralaskan selembar daun atau kain/tikar atau daun ramai-ramai, agar terjalin kebersamaan dan persaudaraan.

Kata botram mengingatkan saya pada istilah bahasa Belanda yaitu Boteram atau boterham yang artinya roti lapis (sandwich). Mungkin dulu orang Belanda mengajak orang Sunda pergi dengan membawa bekal botram (roti lapis) saja dan bekalnya tersebut di makan saat berada di luar ruangan. Orang Sunda melafalkan boterham menjadi botram, karena ada kata yang sulit untuk diucapkan. Dalam bahasa Indonesia kita kenal dengan sebutan piknik.

Kini, kegiatan botram ini biasa dilakukan oleh sekelompok orang yang kenal dekat seperti keluarga, saudara, ataupun pertemanan. Bekal mereka tidak harus selalu roti lapis. Biasanya makanan berat seperti nasi yang lengkap dengan lauk-pauk, ataupun makanan ringan seperti camilan dan minuman.

Di sisi lain terlihat sebidang tanah yang cukup luas. Tanah tersebut disediakan untuk pengunjung yang ingin berkemah (camping ground). Berkemah di Batu Kuda ini bisa dibilang mengasyikkan lho. Kenapa? Karena saat cuaca cerah, kita bisa menyaksikan kelap-kelip bintang di langit. Serasa menginap di sebuah hotel bertaburkan bintang ya. Namun, kegiatan berkemah ini belum diizinkan selama pandemi COVID-19. Jadi harap bersabar saja ya.

Bersambung ke: Batu Kuda, Pegasus dari Bandung? (2)

This Post Has One Comment

Leave a Reply